Apakah Media Sosial Membuat Kita Kurang Percaya Diri ?

Perkembangan teknologi telah mengubah kehidupan manusia. Pengaruh teknologi pun membuat nilai, gaya hidup, parameter, kebutuhan hidup berubah sangat derastis. Demikian adanya sosial media dalam kehidupan kita. Sosial Media menjadikan hidup kita lebih mudah berkomunikasi lebih mudah bercanda dan tertawa pun lebih mudah. Liat akun publik di sosial media pun menjadikan hidup kita lebih informatif dan lebih  inovatif. Peran sosial media saat ini menjadi ujung tombak dari perusahaan raksasa untuk melakukan riset , perusahaan kecil menjadikan tombak pemasaran dan para orang kaya baru bermunculan karena dampak adanya sosial media. Sensasi adanya sosial media juga berdampak pada orang-orang menemukan teman teman lama yang telah hilang. Indahnya hidup katanya orang. Anak muda menemukan tempat dimana dia bergaya serta membagikan kehidupan kehidupan pribadi mereka.

Apakah sosial media ini hanya membawa dampak positiv? Jelas tidak. Sosial media membuat kita ketagihan dan itu akan membuat kita ingin tahu apa yang terus menerus terjadi di dunia. Kita geser satu informasi muncul informasi selanjutnya muncul lagi informasi selanjutnya di sekitar kita. Apa yang terjadi di kehidupan kita lingkungan kita teman seperguruan kita, sahabat kecil kita. Kita tahu semua itu dalam sekejap. Apa informasi tersebut penting bagi kehidupan kita untuk menjadi lebih baik? Tidak sepertinya. Berlebihan informasi membuat kita berasumsi yang aneh-aneh dan itu menjadikan kita lupa bahwa kita sendiri memiliki kehidupan kita sendiri. Terus di sisi lain apabila seseorang tidak cocok dengan anda. Terus anda mengomentari kehidupan orang lain dan itu menjadikan hidup anda tidak produktif.  Betul ga sih?

Halah Teori. wakakaka. Ya emang sih. Tak kasih contoh lah.
Ada si B lagi liburan sama pacarnya. Dia liburan di luar negeri. Terus kita menghasilkan asumsi-asumsi lain. Mengapa sih dia pergi sama itu. Kok mau sih dia pergi sama pacarnya, bego banget sih dia. Dia itu cuma di manfaatin sama pacarnya. Padahal kalau kita tarik garis besarnya. Jika kalian ga mendapat informasi tersebut , apa yang terjadi? ya sudah. Ga peduli kan.  Soalnya kalian ga mengerti detail atau apa yang terjadi sama si B. Dan biasanya asumsi baik terbentuk sendiri. Apa yang terjadi jika semua teman anda update sesuatu. Terus anda di rumah berkomentar dan grundel sendiri ga jelas..Dan anda cuma di rumah geser-geser sosial media tanpa adanya perbaikan kehidupan kalian sendiri. Mana yang lebih bahagia? Kalau aku sih mending sosialisasi ketemu kolega , sahabat, konco terus ngopi atau makan dimana itu sosialisasi lebih baik, dari pada di media sosial menjadi penonton. Hidup sekali coy, nikmati dan jadilan aktor terbaik di dalamnya.

Sisi lain kita sering minder juga sama pencapaian orang lain. Temen kita wisuda nih. Kita kapan? si A punya mobil nih… Wah temen diangkat jadi direktur.. Gila si C udah punya usaha skala nasional. Wah si D menjadi orang nih.  Lah emang dulunya sapi bro?
mmm kaga juga sih. Maksudnya orang berguna gitu loh.

Pernahkah kalian berfikir semua orang cuma ingin membagikan hal-hal bahagia dari hidup mereka. Jarang dari mereka yang membagikan hal-hal seperti dia menangis dia lagi menderita, tekanan ekonomi. Pasti yang ingin dibagikan sesuatu yang bahagia. Naasnya ketika teman kita bahagia dan lagi di  kehidupannya berada di atas, bisa dibilang gitu. Kita lagi dibawah lagi menderita kita akan menjadi baper dan efeknya menyalahkan keadaan. Itu kebanyakan terjadi.

Apa efeknya, kita jadi kurang percaya diri terhadap diri kita sendiri. Kita berfikir wah hidup dia enak ya. Abis gini dapet itu abis itu langsung dapat kerjaan. Langsung nikah. Lah kalian tau cuma depannya doang bro. Ibarat rumah kita, ya yang di tampilin depannya atau yang versi bagus menurut dia. Masa di tampilin pas versi jeleknya. Dapurnya ya masa difoto pas rumah berantakan atau pas piring lagi pecah. Wah bisa dikomentarin netizen yang budiman.

Efek ini terjadi secara tidak sadar, dan kita terus mengulanginya sampai satu tahun dua tahun. Pernah ga sih kalian coba lihat history dari penggunaan baterai smartphone anda. Berapa persen yang habis untuk membuka browser sosial media. Bisa dihitung udah berapa tahun anda pakai itu media sosial. Dah hitung dah bisa itu berapa jam waktu anda terbuang kan? hehehe . Hidup kita sia-sia demi berkomentar terhadap hidup orang lain. dan kita masih jalan di tempat. Dan muncul akhirnya rasa tidak percaya diri pada hidup sendiri. Rasa tidak percaya sendiri semakin muncul lagi semakin kuat apabila kita semakin tau banyak temen sukses yang lebihin kita bahkan yang dulunya lebih bego dari kita. Tapi kita sendiri tetap jalan di tempat yang sama bahkan dengn pencapaian yang sama tanpa gebrakan – gebrakan baru. Kepercayaan diri kita semakin tidak ada dan akhirnya hilang. Akhirnya keadaan pun disalahkan seperti ya dia punya orang tua kaya raya, dia punya nama coy, ya bapaknya pejabat gampang lah gitu. Alasan itu muncul demi pembenaran.

Alasan-alasan itu akan selalu muncul dan muncul terus menerus. Terus kita mulai menyadari bahwa kenapa sih kita ga seperti dia. Otak kita jadi buntu, kita terbiasa hidup mudah karena melihat semua orang mencapai kesuksesan dengan mudah. Kreativitas pun hilang. Padahal kita juga tau bahwa sejarah juga mencatat banyak orang hebat yang lahir dari keterbatasan. Kita terbelenggu pemikiran instan yang mana minta semua jadi instan dan serba cepat. Itu tidak bisa bro. Nikmati aja prosesnya. Emang begitu jalannya.

Saya menekankan, batasi penggunaan sosial media anda kalau bisa hapus ya silahkan, saya ga menyarankan tapi. Jalani kehidupan anda dengan indah. Perbanyak sosialisasi dan berteman di dunia nyata. Itu akan membuka pemikiran anda serta anda dapat merasakan manfaat yang nyata dan secara langsung. Bukan hanya cuma dibalik layar HP pintar. Kepercayaan diri anda juga tidak akan terkikis. Manfaatkan waktu yang ada. Mempunyai informasi banyak bukan berarti kita pintar. Mengelola informasi yang masuk itu yang lebih penting dari pada mempunyai banyak informasi dan ingat !!! ga semua informasi itu penting bagi hidup anda. Ya kali informasi seperti, hari ini anjing temen bos ane makan babi guling.  Ya kalau lu mau deketin bos lu ya guna. Guna buat gombalin doi. Kalo lu ga ada urusan ya hidup lu kebuang percuma untuk menonton kehidupan sosial media. Heehe. Semenit lagi dia di update anjingnya makan babi guling di instagram. Hidup gw kebuang semenit.

Terakhir teori ini teori kalau anda tidak action. Ileng yo le, urip iku sawang sinawang. Ojo meri lan ojo dumeh. Kabeh duwe kangelan e dewe-dewe.

Salam Sukses dari Halle

 

3 respons untuk ‘Apakah Media Sosial Membuat Kita Kurang Percaya Diri ?

  1. wah cocok ulasannya mas, sepertinya sudah pengalaman sekali bermedia sosial.. sudah mengalami, mengamati, menganalisa, dan merumuskan. Tepat sekali ulasannya, saya pun sudah mencapai pikiran seperti mas, dan sekarang sedang merumuskan bagaimana menyikapi media sosial agar lebih bermanfaat.. salam..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s