Kapasitas atau Nilai di Atas Kertas

60% lebih orang Indonesia bekerja tidak sesuai jurusan. Hmmm fakta yang sangat mencengangkan. Itu data saya ambil dari beberapa headline portal berita online Indonesia.

Itu kapasitas mereka yang berlebihan sehingga mereka mengambil sesuatu di luar kapasitasnya. Atau nilai mereka yang cuma di atas kertas sehingga menerima pekerjaan yang bukan jurusan mereka, hmmm ya saya kadang heran. Ada juga fakta lulusan komputer tapi tidak bisa menggunakan komputer. Lulusan pertanian jadi pegawai bank. Lulusan sosiologi jadi bidan. Ehm yang terakhir ga mungkin kayaknya. Banyak sederet fakta yang terjadi di Indonesia dan kita sebagai manusia pasti bingung kok bisa ya. Tapi apabila kita dihadapkan oleh fakta mencari pekerjaan cepat, pasti yang penting dapat kerja dulu urusan beda sama jurusan ga masalah. Yang penting ada pemasukan untuk dapur mengepul. Pasti kebanyakan semua sama seperti itu. Terus apa itu penyebabnya. Ini pengalamanku sebagai pelajar selama bertahun tahun dan itu masa kelam juga sebenarnya semoga ga ada yang meniru saja..

Tak Peduli Terhadap Proses

Lanjut lebih dalam lagi di masalah pendidikan, atau bangku kuliah. Pelajar lebih mementingkan mendapatkan nilai semata dari pada kapasitas yang ada di dalam diri mereka sendiri. Mereka lebih suka mendapat pujian orang lain, mengenai keberhasilannya mencapai nilai bagus ( Cuma nilai diatas kertas ditanyain mah tetep pah poh) . Daripada kerja keras mereka. Padahal hal yang paling pokok mengenai belajar menurut saya adalah belajar menghormati proses. Proses itu jauh lebih penting. Karena di dalam proses itu kita sedang ditempa dan sedang di rubah pola pikir kita, cara pikir kita, sudut pandang kita. Padahal nilai di atas kertas itu cuma sampah kalau anda tidak bisa membuktikannya. Banyak orang berusaha mendapatkan satu kertas yang berisi tanda tangan kepala instansi dan di cap di instansi yang borjouis.

Terus buat apa apabila kalian sudah dapat itu semua. Toh nyatanya apabila kalian kerja. Mayoritas pasti ada tesnya, atau paling tidak kalian magang dan dilihat dari cara bekerja kalian terhadap pola kerja perusahaan. Attitude, koneksi, keberuntungan malah kadang berperan lebih dalam mencari kerjaan terkadang dari pada nilai kertas yang anda banggakan. Itu cuma filter awal.

Menganggap Penilaian Orang Lain Itu Segalanya

Kalian percaya tidak setiap orang diberi kelebihan serta kekurangan masing-masing ?? Itu seharusnya begitu. Tapi banyak orang yang kurang percaya terhadap kemampuan dirinya sendiri. Mereka berfikir kesuksesan itu seperti apa penilaian orang lain. OH tidak. Kalian punya jalur kalian sendiri untuk sukses. Penilaian orang lain itu kalau bisa cuman jadi pertimbangan saja. Jangan ditelan mentah-mentah. Dulu di bangku sekolah saya sendiri berfikir dia jago ya matematika, pasti sukses nantinya. Maka saya ingin jago matematika tapi tidak belajar eh malah cari pembenaran dengan nyontek pas ujian. Wah itu sekarang jadi batunya mungkin pas kuliah jadi kesusahan matematika HEHEHEHE….

Tekanan dari Keluarga

Keluarga adalah pendidikan pertama dari anak. Anak pasti sebelum dia mengenal dunia luar, pastinya mereka mengenal namanya didik oleh keluarga mereka. Didikan dari keluarga itu apabila benar maka anak akan lebih mengerti arti tanggung jawab dan arti kapasitas diri, kejujuran, dsb .Kejujuran yang ditanamkan oleh orang tua mereka akan menjadi pendidikan baik untuk anak mereka di kemudian hari. Itu point penting dari pendidikan di keluarga. Apabila tekanan itu baik maka anak akan dilatih untuk hal-hal baik tersebut alih-alih cuma mendapatkan nilai dari gurunya.

Tapi apa maksud tekanan dari keluarga. Tekanan disini apabila anak diberi target terus menerus tanpa melihat kerja keras anak tersebut. Atau keinginan anak tersebut dan apa kemampuan anak tersebut. Jadi teringat film 3 idiot apabila cewek dokter cowok insinyur. Yakali pak. Dari tekanan yang berasal dari keluarga tersebut ada alternatif lain yaitu mencontek hasil kerja orang lain maka anak tersebut jadi tidak memiliki kapasitas dan akhirnya menjadi pesimis. Mereka tidak siap menghadapi dunia. Tidak semua anak itu sama, dan itu bodoh apabila parameter anak ikan adalah dengan memanjat. Ya harusnya apabila menurut saya tanamkan point-point kebaikan.

Jadi intinya untuk apa kalian dapat nilai 100 di ijazah. Kalian dapat nilai 1000 apabila kalian tidak memberi manfaat untuk orang lain. Tetep aja nilai kalian itu sampah. Kalian menjadi pengemis dan tetap menjadi beban orang lain. Terlebih lagi orang tua kalian apabila kalian sudah siap kerja tapi masih gantung orang tua….

Berbeda jika kapasitas yang ada di diri anda mumpuni. Anda sudah siap memanen, anda bisa melakukan apapun impian anda dikejar. Dan kemungkinan bahagia itu pun ada. Untuk apa anda senang tapi di atas kebahagiaan orang lain…

INI TEORI KONYOL M.A. Protes silahkan ada kolom komentar. Semoga senang yaa dengan penjabaran gila ini. BYE BYE

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s